Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Entah jadi kuli bangunan / tukang kopi pinggir jalan, kamu tetap terhormat. karena harga diri laki laki adalah bekerja, bukan bergaya

Entah jadi kuli bangunan / tukang kopi pinggir jalan, kamu tetap terhormat. karena harga diri laki laki adalah bekerja, bukan bergaya
Rusaknya pergaulan jaman sekarang membuat berkurangnya calon pemimpin keluarga yang berkualitas dari segi akhlak serta kemampuan. Hingga akhirnya kebanyakan anak laki-laki (yang tidak tersentuh agama) lebih senang nongkrong daripada melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.

Hingga akhirnya kebiasaan buruk itu terbawa sampai ia dewasa dan berumah tangga. Lebih asyik dengan games dan kongkow daripada bekerja giat serta membantu istri mendidik anak-anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Padahal, seorang suami adalah pemimpin yang kelak Allah minta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.
Tak sepatutnya menjadi suami pemalas. Berikut ini beberapa alasan mengapa para suami tak boleh memelihara sifat malas:

1. Suami bukanlah wanita

Ya jelas saja, suami bukanlah wanita.

Artinya pria tak bisa seperti wanita yang bisa masuk surga dengan amat mudah, cukup mengerjakan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, serta mematuhi suaminya, maka bisa masuk surga dari pintu manapun yang ia kehendaki.

“Jika seorang wanita menjalankan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, masuklah kedalam Jannah dari pintu manapun yang kamu suka.” (HR Ahmad)

Seorang pria memiliki banyak tanggungan yang harus dipertanggungjawabkan.

Maka, berhentilah bermalas-malasan, suami adalah teladan bagi istri dan anak-anak sekaligus pemimpin mereka.

2. Kebutuhan hidup makin meningkat

Alasan selanjutnya mengapa seorang suami tak boleh bermalas-malasan adalah karena setiap harinya kebutuhan hidup makin meningkat.

Anak-anak butuh biaya pendidikan, keperluan untuk dapur, biaya listrik, telepon, dan sebagainya pun makin besar. Maka tak ada alasan untuk bermalas-malasan.

Kecuali jika ingin menghancurkan hidupnya sendiri. Maka nikmatilah rasa malas itu.

3. Pekerjaan rumah tangga dan kewajiban mendidik anak bukanlah hal sederhana

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Kesalah terbesar suami, ialah melepas begitu saja masalah pendidikan anak-anak pada istri yang sudah lelah seharian membereskan pekerjaan rumah?
Atau, mempercayakan pendidikan anak pada istri yang sudah lelah bekerja seharian membantu Anda menafkahi rumah tangga?

Pendidikan anak-anak bukan semata-mata mengajarkan mereka huruf alphabet atau hijaiyah, tapi juga menanamkan karakter dan akhlak terpuji. Dan hal tersebut takkan bisa terwujud jika hanya ibu saja yang berperan.

Maka dari itu perlunya kerja sama antara suami dan istri untuk membentuk generasi yang berkarakter dan berakhlak terpuji. []



SUMBER: UMMI ONLINE

Posting Komentar untuk "Entah jadi kuli bangunan / tukang kopi pinggir jalan, kamu tetap terhormat. karena harga diri laki laki adalah bekerja, bukan bergaya"