Berhati hati dalam berbicara karena sebuah kata maaf belum tentu mampu menyembuhkan luka yang ada
Berhati hati dalam berbicara karena sebuah kata maaf belum tentu mampu menyembuhkan luka yang ada
![]() |
| Berhati hati dalam berbicara karena sebuah kata maaf belum tentu mampu menyembuhkan luka yang ada |
Sesuai ajaran Islam, memanggil dan memberi gelar (mengolok-olok) dengan sesuatu yang buruk dan tidak disukai, adalah sesuatu yang dilarang. Dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 11, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Mengolok-ngolok adalah perbuatan yang tak terpuji. Bisa membuat sakit hati mereka yang jadi sasaran. Amuk massa di Manokwari, Papua Barat, pada Senin (19/8) kemarin, salah satunya karena adanya olok-olok yang dilakukan oleh anggota Ormas Kepemudaan kepada saudara-saudara kita dari Papua. Kejadiannya beberapa hari sebelumnya, di Surabaya.
Itu sebabnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Imam Bukhari) Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits tersebut.
Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Hadits tersebut bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh lisan.”
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi arahan ketika kita hendak berbicara. Abu Hurairah menarasikan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berfikirlah sebelum berbicara, timbang manfaat dan mudharatnya. Jika ucapan yang akan disampaikan lebih banyak mudharatnya, maka hendaknya diam. Itulah sebaik-baiknya sikap. Orang bijak akan berfikir sebelum berbicara dan bertindak.

Posting Komentar untuk "Berhati hati dalam berbicara karena sebuah kata maaf belum tentu mampu menyembuhkan luka yang ada"